This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 04 Maret 2016

ASPEK FUNGSI MANAJEMEN KELAS

Tugas guru seperti mengontrol, mengatur atau mendisiplinkan peserta didik adalah tindakan guru yang sudah tidak tepat lagi. Dewasa ini aktivitas guru yang terpenting adalah memanajemeni, mengorganisir, dan mengkoordinasikan usaha atau aktivitas peserta didik menuju tujuan pembelajaran.
Memanajemeni kelas merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosis, dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas terhadap aspek-aspek manajemen kelas. Adapun aspek-­aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas adalah sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan selektif dan kreatif (Lois V. Johnson dan Mary A. Bany, 1970).
Kegiatan-kegiatan yang perlu dilaksanakan dalam manajemen kelas sebagai aspek-aspek manajemen kelas, seperti tertuang dalam Petunjuk Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar adalah berikut ini:
a.       Mengecek kehadiran siswa,
b.      Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, memeriksa dan menilai hasil pekerjaan tersebut,
c.       Pendistribusian bahan dan/alat,
d.      Mengumpulkan informasi dari siswa,
e.       Mencatat atat data,
f.        Perneliharaan arsip,
g.      Menyampaikan materi pelajaran,
h.      memberikan tugas/PR.

Sementara itu hal-hal yang perlu diperhatikan para guru, khususnya guru baru dalam pertemuan pertama dengan siswa di kelas adalah:
a.    Ketika bertemu dengan siswa, guru harus:
1)      bersikap tenang dan percaya diri, .
2)      tidak menunjukkan rasa cemas, muka masam, atau sikap tidak simpatik.
3)      memberikan salam lalu memperkenalkan diri,
4)      memberikan format isian tentang data pribadi siswa atau guru menyuruh siswa menulis riwayat hidupnya secara singkat.
b.   Guru memberikan tugas kepada siswa dengan tertib dan lancar
c.    Mengatur tempat duduk siswa secara tertib dan teratur.
d.      Menentukan tata cara berbicara dan tanya jawab.
e.       Membuat denah kelas (tempat duduk siswa).
f.        Bertindak disiplin baik terhadap siswa maupun terhadap, diri serdiri (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, 1996:13).

Konsep dasar yang perlu dicermati dalam manajemen kelas adalah penempatan individu, kelompok, sekolah, dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Di samping sifat kelas peranan dan motif individu dalam kelompok, sifat-sifat kelompok, penyesuaian yang terjadi dalam perilaku kolektif, dan pandangan guru dalam mengajar.
Fungsi manajemen yang dipandang perlu dilaksanakan secara khusus oleh kepala Sekolah seperti tertuang dalam Petunjuk Pengelolaan Sekolah di Sekolah Dasar adalah berikut ini.
1)      Memberi dan melengkapi fasilitas untuk segala macam tugas seperti: membantu kelompok dalam pembagian tugas, membantu pembentukan kelompok, membantu kerjasama dalam menernukan tujuan-tujuan organisasi, membantu individu agar dapat bekerja sama dengan kelompok atau kelas, membantu prosedur kerja, merubah kondisi kelas,
2)      memelihara agar tugas­tugas itu dapat berjalan lancar.
a. Perencanaan
Perencanaan dapat dipandang sebagai suatu proses penentuan dan penyusunan rencana dan program-program kegiatan yang akan dilakukan pada masa yang akan datang secara terpadu dan sistematis berdasarkan landasan, prinsip-prinsip dasar dan data atau informasi yang terkait serta menggunakan sumber-sumber daya lainnya (misal dana, sarana dan prasarana, prosedur, metode dan teknik) dalam rangka rnencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan demikian produk perencanaan adalah rencana atau program yang berorientasi ke masa depan. Program seyogianya disusun secara lebih spesifik dan operasional.
Rencana tersebut hendaknya memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1)      Rencana harus jelas
Kejelasan ini harus terlihat pada tujuan dan sasaran atau target yang hendak dicapai, jenis dan bentuk tindakan atau kegiatan yang akan dilaksanakan, siapa pelaksananya, prosedur, metode dan teknik pelaksanaannya, bahan dan peralatan yang diperlukan, waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan.
2)      Rencana harus realistis
Hal ini mengandung arti bahwa rumusan tujuan, target atau sasaran harus mengandung harapan­-harapan yang memungkinkan dapat dicapai, baik yang menyangkut aspek kuantitatif maupun aspek kualitatifnya. Untuk itu harapan‑harapan tersebut harus disusun berdasarkan kondisi-kondisi dan kemampuan yang dimiliki oleh sumber daya yang ada.
b)      Jenis dan bentuk kegiatannya harus relevan dengan tujuan dan target atau sasaran yang harus dicapai.
c)       Prosedur, metode, dan teknik pelaksanaannya harus relevan dengan tujuan dan target atau sasaran yang hendak dicapai serta harus memungkinkan kegiatan-kegiatan yang telah dipilih dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
d)      Sumber daya manusia yang akan melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut harus memiliki kemampuan-kemampuan dan motivasi serta aspek-aspek pribadi lainnya yang menjamin atau memungkinkan terlaksananya tugas dan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya.
e)    Rencana penggunaan sarana, prasarana, dan dana harus sesuai dengan tujuan, target atau sasaran yang hendak dicapai serta memungkinkan terlaksananya kegiatan-kegiatan secara efektif dan efisien.
f)       Jadwal kegiatan pelaksanaannya harus memungkinkan kegiatan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien serta sesuai dengan batas waktu yang telah direncanakan.
3) Rencana harus terpadu
a) Rencana harus memperlihatkan unsur-unsurnya, baik yang bersifat insani maupun non-insani sebagai komponen-komponen yang bergantung satu sama lain, berinteraksi dan bergerak bersama secara sinkron kearah tercapainya tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya.
b) Rencana harus memiliki tata urut yang teratur dan disusun berdasarkan skala prioritas.
      b. Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah suatu proses yang menyangkut perumusan dan rincian pekerjaan dan tugas serta kegiatan yang berdasarkan struktur organisasi formal kepada orang-orang yang memiliki kesanggupan dan kemampuan melaksanakannya sebagai persyaratan bagi terciptanya kerjasama yang harmonis dan optimal ke arah tercapainya tujuan secara efektif dan efisien.
       c.   Menggerakkan
Fungsi ini menyangkut upaya kepala sekolah untuk memberikan pengaruh-pengaruh yang dapat menyebabkan guru tergerak untuk melaksanakan tugas dan kegiatannya secara bersama-sama dalam rangka tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
 Fungsi ini perlu dilakukan oleh seorang kepala sekolah, karena:
1)      Adanya kenyataan bahwa seseorang akan melakukan sesuatu pekerjaan, tugas atau kegiatan apabila is terdorong untuk memenuhi sesuatu kebutuhan.
2)      Sesudah perencanaan dan pengorganisasian dilakukan harus ditindaklanjutkan dengan pelaksanaan tugas.
3)      Fungsi ini perlu dilakukan sepanjang proses pelaksanaan pekerjaan dengan memperhatikan ragam dan tingkat kebutuhan seseorang. Dalam rangka melaksanakan fungsi ini ada beberapa teknik motivasi yang dapat digunakan oleh kepala sekolah, antara lain:
a.       pemberian pujian dan penghargaan,
b.      pemberian kepercayaan untuk melaksanakan suatu pekerjaan, tugas atau kegiatan,
c.       pemberian peluang atau kesempatan untuk melakukan tindakan­tindakan yang bersifat kreatif inovatif,
d.      pemberian insentif atau imbalan,
e.       menciptkan iklim kerja yang harmonis dan menyenangkan,
f.        memberikan teladan yang baik,
g.      memberikan petunjuk atau nasihat,
h.      memberikan teguran atau sanksi,
i.        menyediakan peralatan dan bahan yang sesuai esuai dengan tugas dan kegiatan serta sesuai- dengan kondisi sekolah,
j.        memberikan layanan yang layak untuk keperluan kenaikan pangkat atau promosi, dan sebagainya,
k.      memberikan hasil pekerjaan atau kegiatan kepada guru yang bersangkutan sebagai umpan balik,
l.        memberikan kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para guru.
    d. Memberikan arahan
Fungsi ini menyangkut upaya kepada sekolah untuk memberikan informasi, petunjuk, serta bimbingan kepada guru yang dipimpinnya agar terhindar dari penyimpangan, kesulitan atau kegagalan dalam melaksanakan tugas.
Fungsi ini berlaku sepanjang proses pelaksanaan program kegiatan. Pelaksanaan fungsi ini dapat berupa kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1)      Memberikan penjelasan atau petunjk-petunjuk tentang tugas dan kegiatan yang harus dilaksanakan oleh guru.
2)      Memberikan penjelasan atau petunjuk secara garis besar tentang cara-­cara melaksanakan tugas atau kegiatan yang harus dilaksanakan oleh setiap guru.
3)      Memberikan gambaran yang jelas tentang cara-cara kerja yang dapat menghindarkan guru dari penyimpangan, kesulitan atau kegagalan.
4)      Membangkitkan dan membina rasa tanggung jawab moral pada diri setiap guru yang dipimpinnya atas keberhasilan pekerjaan, tugas dan kegiatan yang harus dilaksanakannya.
5)      Memberikan perhatian, peringatan serta bimbingan pada saat-saat tertentu terutama ketika guru yang bersangkutan sedang mengalami kesulitan atau masalah dalam pelaksanaan tugasnya.
      e. Pengkoordinasian
Fungsi ini menyangkut upaya kepala sekolah untuk menyelaraskan gerak langkah dan memelihara prinsip taat asas (konsistensi) pada setiap dan seluruh guru dalam melaksanakan seluruh tugas dan kegiatannya agar dapat mencapai tujuan dan sasaran yang telah direncanakan. Hal ini dilakukan kepala sekolah melalui pembinaan kerja sama antar guru dan, antara guru dengan pihak-pihak luar yang terkait. Di samping itu penyelarasan dan ketaatan pada asas diupayakan agar antar fungsi manajemen yang satu dengan yang lain seluruhnya berorientasi pada tercapainya tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
     f. Pengendalian
Fungsi ini mencakup upaya kepala sekolah untuk:
1)   Mengamati seluruh aspek dan unsur persiapan dan pelaksanaan pro­gram-program kegiatan yang telah direncanakan.
2)   Menilai seberapa jauh kegiatan-kegiatan yang ada dapat mencapai sasaran-sasaran dan tujuan.
3)   Mengidentifikasi permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan kegiatan beserta faktor-faktor penyebabnya.
4)   Mencari dan menyarankan/menentukan cara-cara pemecahan masalah­-masalah tersebut.
5)   Mengujicobakan/menerapkan cara pemecahan masalah yang telah dipilih guna menghilangkan atau mengurangi kesenjangan antara harapan dan kenyataan tersebut.
Dengan demikian, dalam melaksanakan fungsi ini seorang kepala sekolah dapat menggunakan sekurang-kurangnya tiga pendekatan, yaitu
1)      Pengendalian yang bersifat pencegahan
2)      Pengendalian langsung
3)      Pengendalian yang bersifat perbaikan

g.  Inovasi
Fungsi inovasi menyangkut upaya kepala sekolah untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan diri para guru untuk melakukan tindakan-tindakan atau usaha-usaha yang bersifat kreatif inovatif. Dengan demikian, kepala sekolah dan guru-guru perlu mencari atau menciptakan cara-cara kerja atau hal-hal yang baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan. Sekurang-kurangnya mereka diharapkan mau dan mampu memodifikasi hal-hal atau cara-cara baru yang lebih baik atau lebih efektif dan efisien. Kondisi demikian perlu diciptakan di sekolah agar pembaharuan pendidikan dapat muncul dari warga sekolah. Sebab, hal ini akan menumbuhkan sikap dan daya kreatif warga sekolah.
Dalam melakukan fungsi ini kepala sekolah perlu memperhatikan hal­hal berikut ini:
1)      Harus disadari bahwa sesuatu yang baru belum tentu lebih baik dari yang lama,
2)   Jika mampu menemukan atau menciptakan sesuatu hal atau cara baru, tidak perlu memandang rendah yang lama,
3)      Jika menyangkut hal-hal yang amat pokok seperti kurikulum nasional, pendekatan belajar-mengajar yang baru, dan sebagainya, maka upaya itu perlu dikonsultasikan kepada pihak-pihak yang berwenang dilingkungan departemen pendidikan dan kebudayaan (Dirjen Puod Dan Dirjen Dikdasmen, 1996:10-18).

Mengacu pada konsep dan fungsi menajemen kelas maka dapat dikemukakan bahwa manajemen kelas tidak lain menunjuk kepada tiga hal yaitu: pengaturan siswa, memelihara lancarnya penugasan, dan pengaturan fasilitas fisik.

Kamis, 03 Maret 2016

PENGERTIAN DAN TUJUAN MANAJEMEN KELAS

Usaha guru dalam menciptakan kondisi yang diharapkan akan efektif apabila: pertama, diketahui secara cepat faktor-­faktor yang dapat menunjang terciptanya kondisi yang menguntungkan dalam proses pembelajaran, kedua, dikenal masalah-masalah yang diperkirakan dan biasanya timbul dan dapat merusak iklim pembelajaran, ketiga, dikuasainya berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas dan diketahui pula kapan dan untuk masalah mana suatu pendekatan digunakan.
Perlu disadari bahwa kerja dalam dunia pendidikan, khususnya dalam kaitannya dengan kegiatan pengelolaan kelas, tidak bisa bertindak seperti seorang juru masak dengan buku resep masakannya. Suatu masalah yang timbul mungkin dapat berhasil diatasi dengan cara tertentu pada saat tertentu dan untuk seorang atau sekelompok peserta didik tertentu. Akan tetapi cara tersebut mungkin tak dapat dipergunakan untuk mengatasi masalah yang sama, pada waktu yang berbeda, terhadap seorang atau sekelompok peserta didik yang lain.
Dengan mengkaji konsep dasar pengelolaan kelas, dan mempelajari berbagai pendekatan pengelolaan dan mencobanya dalam berbagai situasi kemudian dianalisis, akibatnya secara sistematis diharapkan agar setiap guru akan dapat mengelola proses pembelajaran secara lebih baik. Kondisi yang menguntungkan di dalam kelas merupakan prasyarat utama bagi terjadinya proses pembelajaran yang efektif.
Menurut Swardi (2008:107) Istilah pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yakni kata ”"Pengelolaan” dan kata ”kelas”. Kata pengelolaan memiliki makna yang sama dengan management dalam Bahasa Inggris, selanjutnya dalam Bahasa Indonesia menjadi manajemen, menurut Manulang dalam Swardi, manajemen dapat diartikan sebagai seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan dari pada sumber daya, terutama sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pengertian Kelas menurut Hamalik, adalah sekelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru. Sementara Suharsimi menyebutkan bahwa kelas berarti sekelompok siswa dalam waktu yang sama menerima pelajaran dari guru yang sama. Kedua pengertian tersebut, kelas dapat diartikan pada kelompok orang.
Menurut Djamarah & Zaini dalam Swardi (2008:108) Secara sederhana pengelolaan kelas berarti kegiatan pengaturan kelas untuk kepentingan pengajaran. Sedangkan menurut Mulyasa (2007:91). Pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas adalah (1) kehangatan dan keantusiasan, (2) tantangan, (3) bervariasi, (4) luwes, (5) penekanan tantangan pada hal-­hal positif, dan (6) penanaman disiplin diri.
Keterampilan mengelola kelas memiliki komponen sebagai berikut:
1.   Penciptaan dan pemeliharaan iklim pembelajaran yang optimal.
a.       Menunjukkan sikap tanggap dengan cara memandang secara seksama, mendekati, memberikan pernyataan dan memberikan reaksi terhadap gangguan di kelas.
b.      Membagi perhatian secara visual dan verbal.
c.       Memusatkan perhatian kelompok dengan cara menyiapkan peserta didik dalam pembelajaran.
d.      Memberi petunjuk yang jelas.
e.       Memberi teguran secara bijaksana.
f.        Memberi penguatan ketika diperlukan.

2.  Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
a.    Modifikasi perilaku.
1)      Mengajarkan perilaku baru dengan contoh dan pembiasaan.
2)      Meningkatkan perilaku yang baik melalui penguatan.
3)      Mengurangi perilaku buruk dengan hukuman.
b.   Pengelolaan kelompok dengan cara :
1)        Peningkatan kerja sama dan keterlibatan.
2)        Menangani konflik dan memperkecil masalah yang timbul.
c. Menemukan dan mengatasi perilaku yang menimbulkan masalah.
1)      Pengabdian yang direncanakan.
2)      Campur tangan dengan isyarat.
3)      Mengawasi secara ketat.
4)      Mengakui perasaan negatif peserta didik.
5)      Mendorong peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya.
6)      Menjauhkan benda-benda yang dapat menganggu konsentrasi.
7)      Menyusun kembali program belajar.
8)      Menghilangkan ketegangan dengan humor.
9)      Mengekang secara fisik.

Dengan demikian, pengelolaan kelas dan pengelolaan pembelajaran adalah dua kegiatan yang sangat erat hubungannya, namun dapat dan harus dibedakan satu sama lain karena tujuannya berbeda. Kalau pembelajaran mencakup semua kegiatan yang secara langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus pembelajaran; menyusun rencana pembelajaran, memberi informasi, bertanya, menilai dan lain sebagainya, maka manajemen kelas menunjukan kepada kegiatan-kegiatan yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses pembelajaran. (pembinaan “report”, menghentikan perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh penetapan norma kelompok yang produktif, dan sebagainya). Dengan kata lain, di dalam proses pembelajaran di sekolah dapat dibedakan adanya dua kelompok masalah yaitu masalah pengajaran dan masalah pengelolaan kelas.
Masalah pengelolaan kelas harus ditanggulangi dengan tindakan korektif pengelolaan, sedangkan masalah pembelajaran harus ditanggulangi dengan tindakan korektif instruksional. Peserta didik yang enggan ambil bagian di dalam kegiatan kelompok karena merasa ditolak oleh kelompok lain (masalah pengelolaan) tidak dapat ditanggulangi dengan kegiatan menjadi lebih menarik (tidak instruksional), meskipun memang tidak dapat dibantah bahwa penarikan diri peserta didik tersebut akan menghalangi tercapainya tujuan khusus pembelajaran yang hendak dicapai melalui kegiatan kelompok yang dimaksud. Sebaliknya hubungan antar pribadi (interpersonal) yang baik antara guru dengan peserta didik (suatu petunjuk keberhasilan pengelolaan) tidak dengan sendirinya menjamin bahwa proses pembelajaran akan menjadi efektif. Yang jelas, pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses pembelajaran yang efektif.
Sebagai pemberian dasar serta penyiapan kondisi bagi terjadinya proses belajar yang efektif, pengelolaan kelas menunjuk kepada pengaturan orang (dalam hal ini terutama peserta didik) maupun pengaturan fasilitas. Fasilitas ini mencakup pengertian yang luas dari ventilasi, penerangan, tempat duduk, sampai dengan perencanaan program pembelajaran yang tepat. Sudah barang tentu yang belakangan ini, terutama yang lebih merupakan pengaturan perangkat lunak (soft ware) telah memasuki kawasan pengajaran.
Sedangkan tujuan manajemen kelas adalah:
a.    Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
b.    Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
c.    Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual siswa dalam kelas.

d.    Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, 1996:2).

Rabu, 02 Maret 2016

MENGAJAR DAN MANAJEMEN KELAS

Kegiatan guru di dalam kelas meliputi dua hal pokok yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan manajerial (Depdikbud, 1983:9) oleh M. Entang dan T. Raka Joni (1983). Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan peserta didik mencapai tujuan-tujuan pelajaran. Kegiatan mengajar antara lain seperti menelaah kebutuhan peserta didik, menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan, mengajukan pertanyaan, menilai kemajuan siswa. Kegiatan manajerial. kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana kelas agar kegiatan mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Kegiatan manajerial antara lain seperti mengembangkan hubungan yang baik antara guru dan peserta didik, memberi ganjaran dengan segera, mengembangkan aturan permainan dalam kegiatan kelompok, penghentian tingkah laku peserta didik yang menyimpang atau tidak sesuai dengan tata tertib. Dengan demikian, dalam proses belajar mengajar di sekolah dapat dibedakan adanya dua kelompok masalah yaitu masalah pengajaran dan masalah manajemen kelas.
Banyak guru yang kurang mampu membedakan masalah pengajaran dan masalah manajemen kelas, sehingga pemecahannya pun menjadi kurang tepat. Masalah manajemen kelas harus ditanggulangi dengan tindakan korektif, sedangkan masalah pengajaran harus ditanggulangi dengan tindakan pembelajaran.  Sebaliknya, hubungan antar pribadi (in­terpersonal) yang baik antara guru dan siswa, antara siswa dan siswa (suatu petunjuk keberhasilan manajemen kelas) tidak dengan sendirinya menjamin proses belajar mengajar akan menjadi efektif. Berkaitan dengan hal tersebut maka manajemen kelas merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif (M.Entang dan T. Raka Joni, 1983).
Walaupun istilah mengajar (teaching) dan pengajaran (instruction) sering digunakan searti, adalah sangat berguna apabila memandang mengajar sebagai stsuatu yang memiliki dua dimensi yang saling berhubungan: pengajaran dan manajemen. Pengajaran dan manajemen dapat dibedakan, tetapi dalam petaksanaan pembelajaran keduanya sulit dipisahkan. Manajemen bermaksud menegakkan dan memelihara perilaku siswa menuju pembelajaran yang efektif dan efisien — memudahkan pencapaian tujuan manajerial. Pengajaran dan manajemen keduanya bertujuan menyiapkan atau memproses — yaitu memproses atau menyiapkan perilaku-perilaku guru yang diharapkan memberi kemudahan kepada pencapaian tujuan tertentu (Webe, 1993:1).

Di bawah ini, adalah gambaran proses pengajaran dan proses manajerial yang masing-masing meliputi empat proses.
  • Mengidentifikasi tujuan pengajaran
  • Mendiagnose keberhasilan siswa
  • Merencanakan dan menerapkan aktivitas pengajaran
  • Mengevaluasi keberhasilan siswa
  • Menetapkan tujuan manajerial
  • Menganalisis kondisi yang ada
  • Memilih dan menerap kan strategi manajerial
  • Menilai efektivitas manajerial